Filosofi Kopi

“Kopi yang anda minum hari ini:Kopi Tiwus. Artinya: Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”


Begitulah cerita Filosofi Kopi diakhiri dalam buku ini. Ini kisah tentang Ben, barista yang menjadikan kopi sebagai pusat kehidupannya. Ia mengabadikan seluruh hidupnya untuk membuat kopi yang tidak hanya sekedar cairan berwarna gelap di cangkir. Tidak hanya minuman, Ben menyulap kopi menjadi mood booster pelanggan setia sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi.

Puncak kesuksesannya adalah ketika ia menemukan apa yang dirasanya sebagai kopi terlezat di dunia. Ben’s Perfecto, kopi itu diberi nama. Artinya: sukses adalah wujud kesempurnaan hidup. Dari penemuan resep barunya ini, Ben mendapat hadiah 50 juta.

Tidak hanya uang, penemuan ini memberikan Ben kehidupan yang lebih berwarna. Semua mengapresiasi Ben’s Perfecto. Semua mengamini klaim Ben bahwa itu adalah kopi paling enak di dunia. Hingga suatu hari, datang seorang pria yang hanya berkata “lumayan” ketika meneguk masterpiece ini. Di situ Ben menemui kegalauan. Ia mulai kembali gelap mata, mencari tahu dimana sesungguhnya kopi yang disebut-sebut lebih enak dari Ben’s Perfecto berada. Kopi Tiwus itulah yang dicari-carinya.

Selain Filosofi Kopi, dalam buku ini pun bisa ditemukan 17 cerita dan prosa. Favorit saya adalah Sikat Gigi. Ditulis Dee pada tahun 1999. Bercerita tentang perjuangkan cinta Tio kepada sahabatnya, Egi. Cinta tak terbalaskan. Awalnya. Karena Egi sudah menderita cinta buta kepada orang lain yang telah bertahun-tahun menggantung perasaannya. Ada satu kutipan dari buku ini yang menarik perhatian saya.

“…alam hati saya tidak mungkin dimengerti siapa-siapa. Tapi ke mana pun saya pergi, kamu tetap orang yang paling nyata, paling berarti”

Kutipan itu, membuat saya serta merta melirik suami. Bapaknya Kani. Haha. Bukannya sok romantis. Tapi gimana ya…cocok banget kata-kata itu menggambarkan perasaan saya tentang ┬ási misua. Pria yang sejak 4 Oktober 2002 selalu punya tempat spesial di hati saya, meskipun saya dan dia sempet naksir orang lain berkali-kali. Hehehe.

Oya. Selain yang tadi sudah saya tulis, ada beberapa kutipan yang bisa jadi mood boosters di buku ini. Ini adalah beberapa di antaranya.

“Akan tetapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak… Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali”(hal.42)

“Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekedar bergerak dua inci” (hal.49)

“Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri” (hal.51)

“Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya” (hal.68)

“Sebenarnya, dia orang yang paling sial. Cinta hanya retorika kalau tidak ada tindakan nyata, yang artinya selama ini dia dikenyangkan dengan bualan” (hal.77)

“Separuh jiwa yang dia pikir hilang ternyata tidak pernah kemana-mana, hanya berganti sisi, permainan gelap terangnya Matahari dan bulan” (hal. 83).

Secara keseluruhan, bisa dibilang buku terbitan tahun 2012 ini seperti disusun untuk menjadi dopping bagi pikiran yang sedang kalut. Bisa dilihat kan, dari kutipan-kutipan tadi. Dengan permainan kata-katanya, Dee mencoba mengingatkan pembacanya, bahwa setiap pribadi memegang hak prerogatif atas hati dan pikirannya sendiri. Tak ada yang bisa membuat sedih tanpa izinnya karena setiap orang bisa saja memilih untuk selalu bahagia dengan menutup akses ‘si pembuat onar’ ke hati dan pikiran ketika gelagat kurang baik mulai terlihat.

Advertisements