Kani Main ke Kidzoona Jogja

Kani membuat sebuah permintaan: ingin ke Playground yang belum pernah dia kunjungi. Jadi…googling lah ibu. Dan menemukan bahwa di Hartono Mall ada playground baru bernama Kidzoona. Jadi, kesanalah kami hari ini.

Kidzoona terletak di lantai 1 Hartono Mall Yogyakarta. Kalau dari lobby, naik eskalator dua kali. Tepat di atas Matahari. Tempatnya luas. Sepertinya empat atau enam kali luas playground di Lippo Plaza. Tapi ya gitu deh, harga masuknya juga berkali-kali lipat yang di Lippo😂 Harga tiket masuk Kidzoona kalo weekend Rp 90.000/jam atau Rp 150.000/seharian untuk tarif non member.

Mengingat playgroundnya besar banget, ibu pikir “Wah mana puas bocah cuma main 1 jam”. Akhirnya kami pilih tiket seharian. Dan ternyata itu keputusan yang tepat. Kami main di sana selama hampir 5 jam😂

Wahana permainan yang ada di Kidzoona banyak banget. Ada permainan mandi bola yang sangat luas dilengkapi dengan dua trampoline besar, satu perosotan kecil, dan dua perosotan meliuk-liuk kayak di waterboom. Terus, ada arena permainan motorik halus yang dilengkapi permainan balok, rumah boneka, miniatur kota dan jalur transportasi. Selain itu ada arena Play, Work, and Build yang dipenuhi balok-balok gabus besar untuk membangun berbagai bangunan sesuai imajinasi anak. Ada juga arena stand-stand seperti Sushi Bar, Ice Cream stand, pasar buah, toko bunga, dan toko kue serta kantor profesi-profesi seperti polisi, pemadam kebakaran, dokter, juga pak pos yang menjadi arena anak role playing. Serunya, di sini anak-anak bisa pake seragam profesi tersebut juga dan alat-alat kerjanya cukup lengkap. Jadi role playing-nya lebih berasa😎

Oya, setiap jamnya Kidzoona juga mengadakan acara-acara seperti senam bersama, games, foto bareng maskot Kidzoona, dan kelas prakarya. Meskipun mayoritas anak-anak pada sibuk bermain, tapi ada aja anak yang antusias mengikuti acara ini. Soalnya, dapat hadiah. Termasuk Kani😁

Overall, menurut ibu sih Kidzoona ini worth the price. Ya emang cukup bikin mikir sih kalo mainnya cuma 1jam. Duh…ni dompet mendadak kehilangan Rp 90.000 cuma buat nyenengin anak sejam. Mending ajak nonton bioskop segitu udah tiket berdua untuk dua jam. Hehehe. Tapi, kalo main ber-jam-jam mah worth it lah ya HTM Rp 150.000. Apalagi terkait pengalaman. Kayaknya di Jogja baru Kidzoona yang menawarkan pengalaman role playing yang printilan mainannya lengkap sampe ada kasir-kasiran, mobil dinas, dan seragam.

Advertisements

Omellete Kentang Keju

Waktu wiskul di Cafe Savier, Sarangan beberapa hari lalu Kani lahap banget makan Omellete. Akhirnya dua hari itu, eksekusilah ya di rumah. Enak banget buat sarapan.😍 Bisa jadi sampingan untuk sosis goreng. Tapi kalo Kani, gini aja udah cukup kenyang. 

So..this is the recipe:

Bahan (untuk 2 porsi):

3 butir telur

1 kentang kecil

1 slice keju cheddar

1/2 bawang bombay

daun bawang secukupnya

merica secukupnya

garam secukupnya

Cara memasak:

1.  Tumis bawang bombay yang sudah dipotong kecil-kecil.

2. Masukkan kentang  yang sudah dipotong kecil-kecil dan tipis. Tunggu sampai layu. matikan api. Hancurkan tumisan dengan chopper sampai teksturnya jadi halus.

3. Kocok telur sampai rata. masukkan tumisan kentang+bawang bombay tadi. tambahkan daun bawang yang sudah dipotong kecil-kecil, merica, garam.

4. Goreng adonan dengan minyak sedikit di wajan anti lengket. Apinya kecil aja yaaa😊

5. Setelah bagian bawah mengering, masukkan keju cheddar yang sudah dipotong jadi delapan.

6. Gulung telur. Masak sampai matang (tapi kalo kami sih setengah matang juga udah enak…)

7. Jadi deh…😊 Enak dimakan ketika masih panas, soalnya kejunya meleleh😍

Silakan dicobaaa😊

Wisata Kuliner di The Manglung

Di waktu senggang siang ini Kani sempat main-main ke The Manglung view and resto. Tempat ini terletak di Jalan Ngoro Oro Ombo no. 16 Bukit Patuk, Gunungkidul. Cukup menyenangkan. Pemandangan hijau khas Bukit Bintang menjadi daya tarik utama. Desain bangunan yang semi outdoor dan fasilitas yang cukup lengkap pun membuat kunjungan ke sini jadi terasa nyaman. Tapi, kalo boleh kasih saran, resto ini masih perlu meningkatkan kualitas rasa masakan dan menyesuaikan harga dengan resto sejenis.

Wanna see the ambience there? Please check it out 😊

Group Rempong dan ketuanya yang sok jaim😘

Ada kolam renangnya. HTM Rp 50.000

Spot foto buat instagram-lovers. Boleh naik ke bulan-nya itu. Tapi bayar Rp 20.000. Dah aku mah di bawah aja. Takut jatuh😂

Kani Main ke Telaga Sarangan

Lebaran 1438 H ini, Kani melipirrrrr ke Telaga Sarangan, yang terletak di kaki Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur. Ini tuh idenya si Uti. Orang mah malam takbiran pikirannya besok muter silaturrahim kemana…eh Uti malah ngajakin besok plesir ke Sarangan😁 Kita sih…seneng-seneng aja😁

Perjalanan dari Jogja dimulai jam setengah10 pagi, setelah pada sholat ied lanjut silaturrahim ke tetangga dan saudara. Setelah bapak Kani main PS juga😅 Alhamdulillah kondisi jalan mayoritas ramai lancar. Lengang di beberapa titik, dan cenderung hanya macet di beberapa lampu merah. Sampai di gerbang masuk Tawangmangu jam12. Wuuuu. Magic! Cuma 2,5 jam sampe Tawangmangu padahal mampir-mampir selama perjalanan.

Di Cemoro Sewu, kami mampir warung Sate Kelinci. Yaaa Allah…dingin sangat di Cemoro Sewu. 17 derajat celcius. Tambah dramatis dengan adanya kabut tebal. Hhh…bikin selera makan jadi menggebu aja (alesan). Di sana ibu, bapak, dan uti pesan Sate Kelinci pake lontong. Sementara Kani, pesannn: Indomie goreng telur dan pisang bakar. MasyaaAllah anak gw lahap banget makannya. Setiap dia lihat ibu atau bapaknya mau cuil-cuil makan menu-nya dia, Kani langsung heboh sendiri “Jangan dimaakaaaaaaan!”. Luar biasa.

Setelah kenyang, kami lanjut perjalanan ke Telaga Sarangan. Ngapain? Naik speed boat. Yeeeeeiii😄 Ibu emang ndeso banget. Belum pernah naik speedboat. Jadi, jalan dari parkiran semangat banget dah menuju dermaga. Saking semangatnya, sampe nggak ngerti kalo ternyata Bapak sudah nawar harganya dari 60ribu jadi 50ribu, dan tukang speedboatnya sudah ACC. Ehhhh Ibu malah bayar harganya tetap full 60ribu🤔 Ampun dahhhh…

Tentang pengalaman ber-speedboat…ya seru lah! Kalo Ibu sih, daripada perut pegel gegara berkuda keliling pinggir telaga, mendingan duduk santai ber-speedboat. Berkuda kan cuma bisa 1 orang dewasa atau 2 orang anak-anak tuh. Nah kalo speedboat kan bisa rame-rame. Ni kayaknya 4 orang penumpang dewasa+1 pengemudi cukup ni. Oh iya…kalo pingin mengemudi sendiri juga boleh lho… Tapi ya…tanggung resiko. wkwkwk. Secara mayoritas orang-orang di sini main speedboatnya cenderung hard core biar lebih seru. Ngebut dan naik turun tinggi begitu kayak Kora-Kora di Ancol. Anak muda mah seneng ya. Tapi kalo ibu…aduhhhh…ibu mah give up kalo begitu. Anak masih kecil, suami masih ganteng, gaji masih segini-segini aja ya ciiin. Kalo sampe nyemplung Sarangan gegara speedboatnya main gaya hardcore, sungguh rugi bandarrr. 😅 Jadi ya…kita mah main speedboatnya kecepatan standar aja lah.

Setelah main speedboat, kami jalan-jalan santai mengelilingi pinggir telaga. Di sekitar jalan banyak orang berjualan. Mulai dari baju dan souvenir bertuliskan Telaga Sarangan, makanan yang enak disantap hangat-hangat seperti jagung bakar dan bakso, buah-buahan dan sayuran, sampai accessoris barongsay. Meskipun baru aja selesai makan di Cemoro Sewu, suasana di Sarangan bikin kami ga kenyang-kenyang. Ibu pesan satu jagung bakar guedeee seharga Rp 7.500 (make sense lah harganya) dan bapak pesan satu porsi bakso seharga Rp 20.000 (nah ini…mark up banget dah harganya. di Jogja mah 20.000 udah dapet bakso Telkom yang uenak lembut dagingnya berasssa). Dan kami menghabiskannya dalam sekejap, sodara-sodara… heudeuh… kedinginan jadi laperan😅 Kalo uti? Seperti biasa…Uti mah kalapnya lihat baju😁. Mau beliin baju cucu-cucunya. Kaos katun combed bertuliskan Telaga Sarangan gitu. 40ribu/kaos. Ibu pun ketularan kalap…jadinya ikut-ikutan beli dress tye dye gitu. harga asli 65.000 ditawar 35.000 ga mau, akhirnya mentok 40.000. Bolehlah..

Sebelum pulang, kami mampir sebentar di sebuh sudut playground sederhana di balik kios oleh-oleh. Arahnya sih timurnya Telaga Sarangan, di jalan menuju parkiran. Di sana ada mainan mobil-mobilan dan motor-motoran anak yang bisa dikendarai gitu. Ada juga perosotan dan ayunan. Lumayan lah untuk hiburan sederhana anak-anak. Tapi kalo lihat yang pada main mobil dan motor, kayaknya pada seusia siswa sekolah dasar deh. Ya wajar sih. Gede begitu mobil-mobilannya. Jadi kalo balita kayak Kani….mendingan main yang lain, kayak ayunan dan puter-puteran.

Akhirnya sampailah di saat kami sepertinya harus pulang. Waktu itu sekitar pukul 15.30. Takut kemalaman dan kena macet ke Jogja-nya. Dan ternyata bener😅 perjalanan ke Jogja-nya 5 jam bo… Padat merayap di sekitar Solo dan Prambanan. Gapapa. Mengingat bahwa tadi pagi berangkatnya bisa sangat lancar dan tadi siang sudah happy banget di Sarangan, diikhlaskan aja lah ya macet-macet dikit. Besok-besok kalo ada kesempatan, kita ulang lagi main-main ke sana 😊

Kani Makan di Pawon Sulung

Satu lagi tempat makan yang menyenangkan di Jogja. Pawon Sulung yang terletak di Jalan Selokan Mataram, Seturan. Meskipun lahannya cukup imut, tempatnya cukup nyaman dengan desain jawa klasik. Apalagi di sini ada mainan tradisionalnya sehingga menyenangkan untuk anak-anak, ada spot khusus yang instagramable sehingga menyenangkan buat orang dewasa (Hahahaha. Narsis mode: ON), dan banyak masakan jadul sehingga sepertinya bakal menyenangkan juga untuk orang tua.

Alhamdulillah tempatnya nggak terlalu rame. Ibu dan Kani ke sini menemani Tante Merry, setelah pulang dari Keraton, sekitar pukul 12.30. Senang sekali kami langsung dapet tempat duduk dan bisa wisata kuliner dengan nyaman. Sesampainya di sana, kami langsung pesan makanan. Kami memilih makanan: tumis kembang turi, ayam goreng, lele goreng, sup ayam, bakwan jagung goreng, tempe mendoan, dan pisang goreng. Untuk minumannya kami memilih es jeruk, wedang jahe, dan wedang jeruk.  Oya, selain menu itu, di sini ada juga menu jadul lucu-lucu lain seperti tumis kembang kates (bunga pepaya), dan wedang uwuh.

Setelah memesan makanan, kami mengisi waktu luang menunggu masakan siap santap dengan foto-foto di spot dapur jadul yang terletak di bagian depan resto ini. Dapur jadul di sini lumayan lengkap peralatannya. Ada tungku kayu yang kelihatan menyala karena diberi lampu di dalamnya, ada juga alat untuk menumbuk, ada bambu untuk meniup apinya, bahkan ada cangkul. Untuk menambah semangat pengunjung, di sini disediakan juga kostum pendukung acara foto-foto seperti: kebaya tradisional, baju lurik, caping (topi pak tani), dan blangkon. Tapi ibu sih bawa sendiri kebaya dari rumah. Hahaha. Niattt. Meskipun akhirnya dipake tante Merry sih…soalnya Ibu dan Kani malah punya ide iseng pake baju lurik dan blangkon. Hehe…

Setelah foto-foto, ibu dan kani pun beralih ke mainan tradisional. Di sini ada dakon, angklung dan mainan wayang kecil. Tapi Kani kemarin paling tertarik sama dakon alias congklak. Wah..udah lama ga main beginian. Tapi Kani minta ajarin cara mainnya gimana. Yaudahlah ya, seingatnya. Pokoknya ambil butir-butir kacang segenggam dari ‘rumah’ alias bulatan di tengah yang besar sendiri itu, trus mengisi bulatan-bulatannya satu butir-satu butir gitu lah ya sampai yang digenggaman kita habis. It was funJ Lucu juga buat quality time. Dan kalo lihat bagaimana tangan Kani bergerak pelan-pelan mengambil dakon dan mengisi bulatan-bulatannya, sepertinya mainan ini juga cocok untuk melatih motorik halus.

Belum selesai main, ternyata makanan sudah datang. Yuuhuuu. Yang paling unik sih menurutku Tumis Kembang Turi. Rasanya pedes, asin, agak pahit gitu. Kalo ibu sih lahap makannya. Tapi tante Merry agak susah menelannya. “Karena tau ini bunga, jadi agak gimanaa gitu”, kata dia. Haha. Buat pengalaman ya, Tante… Lama-lama rasanya tuh mirip kol/kubis kok. Tawar-tawar seger gitu. Cuma karena dibumbuin cabe rawit aja jadi pedas. Oya, pada kunjungan selanjutnya dengan bapak Kani dan Soba Sitta, ibu nyobain Tumis Kembang Gandul alias tumis bunga papaya. Pahit-pahit pedas gitu deh… Lumayan juga. Enakan ini 😀

Overall…menurutku, Pawon Sulung yaa dapet skor 8/10 lah…alias: 4 bintang 🙂 Nyaman, kids friendly, ada musholla. Tapi…kalo bisa, pilihan lauk-nya lebih variatif lagi dan  ukuran ayamnya agak lebih gede ya. Wkwkw. Oya, kualitas pelayan juga bisa ditingkatkan. Karena sempat mengalami ada pelayan laki-laki yang ditanya-tanya tentang detail pilihan menu, ehhhh… dia belum bisa menerangkan. Pramusaji sebaiknya informative yaa. Kan dia orang pertama yang melayani pengunjung:)
Pawon Sulung

Buka: 10:00-22:00

Alamat: Jl. Selokan Mataram No.8, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Kani Menonton Pertunjukan Tari di Keraton Jogja

Kata orang, Jogja itu ngangenin. Tapi kalo kata saya sih nggak ngangenin, tapiiii: ngangenin banget. Hahaha. Kayaknya sih, bawaan lahirnya Jogja yang ngangeni ini nih yang bikin wisatawan non stop datang terus. Alhasil, penduduk Jogja jadi cenderung sering kedatengan teman-teman atau keluarga dari luar daerah. Konsekuensinya, dalam beberapa kesempatan, kami jadi kebagian seneng ikutan nemenin jalan-jalan. Horeeeee…. 😀

Pagi tadi, kani dan ibu ketiban rejeki nemenin tante Merry jalan-jalan ke Keraton. Agenda utama kami sebenarnya nonton pertunjukan tari di Bangsal Sri Manganti jam 10. Tapi alhamdulillah…dapet bonus nonton para gadis jawa latihan menari juga di Bangsal Kesatrian. Ini gara-gara pertunjukannya ga on time, pada praktiknya baru mulai sekitar jam 11. Jadi kami iseng muter-muter sampai tanpa sengaja ketemu Bangsal Kesatrian. Di situ kami melihat, lemah lembut begitu ternyata tarian jawa bisa bikin mbak-mbak penarinya keringetan dan ngos-ngosan lho… Dan ternyata tarian jawa tuh susah juga. Ada tuh salah satu mbak penari bolak-balik dibenerin terus gerakan pinggul, tangan, dan punggungnya supaya posisi badannya terlihat melengkung sempurna. Padahal dari dahinya tuh bulir-bulir keringat sudah keluar terus. Hm. Semoga cepet bisa ya, Jeng. Semangat!!!

Setelah kembali ke bangsal Sri Manganti, kami menonton tiga tarian: Srimpi, Golek Menak Putri, dan Anilo Prahasto. Yang pertama adalah tari Srimpi. Tarian ini merupakan tarian jawa klasik dan sakral khas kerajaan Mataram.  Tari Srimpi ditampilkan oleh empat orang penari wanita. Kesemuanya mengenakan baju hitam tanpa lengan (bukan kemben, semacam rompi saja), dengan rambut digelung dan dihias bulu kuning dari burung kasuari. Waktu pertunjukannya sekitar 15 menit.

Tarian kedua adalah Golek Menak Putri. Jika srimpi terkesan anggun dengan gerakan lemah lembutnya, Golek Menak terkesan lebih atraktif dengan cerita pertarungan antara dua orang perempuan berpakaian biru dan merah. Denger-denger sih, tarian Golek Menak diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX karena kegemarannya dengan wayang orang. Oleh karena itu, beliau ingin membuat sebuah pertunjukan yang menampilkan wayang orang. Video lengkapnya bisa dilihat di Instagram Ibundakani, ya… Soalnya mau upload di sini gagal melulu T.T linknya: https://www.instagram.com/p/BTygW7sAGmL/ .

Nah..selanjutnya tarian ketiga: Anilo Prahasto. Tidak seperti kedua tarian sebelumnya yang ditampilkan oleh penari wanita, tarian ini ditampilkan oleh dua orang penari laki-laki. Satu penari berperan sebagai manusia, dan satu lagi berperan sebagai monyet berbadan biru. Video bisa dilihat di Instagram IbundaKani https://www.instagram.com/p/BT0BcFag5DW/ .

Secara keseluruhan, pagelaran ini saaaangatt menyenangkan. Apalagi setelahnya, kita bisa foto-foto dengan penarinya. Meskipun mereka juga terburu-buru gitu fotonya karena harus segera berganti pakaian. Hihihi. Terimakasih yaaa mbak dan mas penari… 🙂 Sebenarnya kalo setelah pertunjukan selesai trus secara resmi ada sesi foto bersama, bakalan lebih nyenengin lho, mbak..mas.. (Kalo-kalo pada baca tulisan ini. Hehehe). Ga perlu semua penari, cukup dengan penari yang tampil terakhir juga kami sudah senang 🙂

IbundaKani facial di Wardah Beauty House

Setelah umur memasuki angka 30, kulit mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan, mulai dari hyperpigmentasi, kulit kering, sampe keriput halus (Oh! No!). Makanya, umur segitu tuh penting buat kita untuk lebih memperhatikan kulit. Well, ibundaKani sebenarnya juga bukan orang yang canggih amat dalam soal perawatan kulit. Saya cuma wanita culun yang pake pelembab pasaran (kalo lagi ada rizqi ya SKii, kalo lagi krismon ya Wardah aja udah alhamdulillah. Wkwkwk.) dan facial cuma kalo merasa sudah perlu aja.

Nah soal facial ini nih.Tadi saya nyempetin facial di Wardah House of Beauty yang terletak di Jalan Sudirman, Yogyakarta. Pas di selatan lampu merah pertigaan Mc Donald’s. Agak kaget juga pas lihat pricelist-nya. Murah bangetttt. Misalnya nih untuk facial anti aging yang pake serum Renew You, harganya cuma Rp 90.000. Padahal, mbak kapsternya ngasih serumnya banyak bangettt dan sebagai konsumen setia Wardah, saya tahu satu serum itu dijual di pasaran dengan harga sekitar Rp 70.000. Dengan demikian, cuma nambah bayar Rp 20.000 dari harga serum tapi dibersihin, di-massage, diekstraksi, diserumin, dimaskerin kan lumayan banget yak. Hehehe. Apalagi kalo pake Telkomsel. Bisa dapet diskon 20% dengan tukar point.


Yang tadi itu dari sisi harga.Dari sisi tempat dan pelayanan, oke juga lho. Gedungnya masih bersih dan cozy. Mbak kapsternya juga terkesan bersih, pake seragam warna abu-abu muda. Facialnya juga enak. Ga usah ngomongin ekstraksi lah ya. Dimana-mana mah ekstraksi sakitttt. Bikin kita percaya dengan kata bijak “Beauty is painful”. Kita ngomongin massage-nya aja deh ya. Massage-nya oke. Lama. Dan entah gimana kok perasaanku, aliran darah di wajah terasa lebih lancar gitu pas abis di-massage. Mungkin karena ini tadi facialnya pilih yang anti aging, massage-nya lama terfokus di area dahi yang mana merupakan area rentan keriput untuk sebagian orang. Enak kok. Apalagi kalo kepala lagi pusing. Terasa ‘the pain is released’ gitu (mulai lebay. Hehehe). Oh iya, selain wajah, pundak dan kepala kita juga di-massage. Tapi sayangnya di Wardah Beauty House ini tuh customers ga diminta ganti pake kemben. Jadi tetap pake baju biasa gitu. Konsekuensinya: pijatan di area pundak kurang begitu terasa. Sayang euy.

Selain itu, dari pengalaman tadi sih terlihat bahwa layanan facial di sini sudah pakai teknologi yang lumayan mumpuni. Apalagi harganya jauh di bawah harga facial di dokter. Setelah ekstraksi, kulit kita disinari HF supaya bakterinya mati (kata mbak kapsternya sih gitu). Selanjutnya, setelah dikasih serum, kulit kita juga semacam disentuhkan ke besi yang fungsinya membantu penyerapan serum. Sangat memuaskan untuk facial dengan standar harga segitu.

Overall, saya kasih nilai 80 untuk facial di sini. Most things are nice. Kalo ada kekurangan 20 point, itu karena tidak adanya perlengkapan penunjang seperti gantungan baju dan tas; welcome drink seperti teh hangat; dan tidak diberikannya kemben ataupun baju khusus selama perawatan di sana. So…will I come there again for facial service? Definitely yes.